Oct
13
Filed Under (Jakarta) by lomardasika on 13-10-2007


Lorong Gloria, mungkin nggak banyak yang tahu nama ini, namun kalau melihat lokasinya yang terletak persis di samping Hotel Gloria, seberang petak sembilan, pasti orang-orang(warga keturunan China pada umumnya) akan mengenalinya.

Disini, kalau boleh diibaratkan seperti surganya makanan. Tentu saja, definisi halal dan tidak halal tidak berlaku disini. Selain dikarenakan produk-produk makanan ini sudah menjadi sesuatu yang lumrah di kalangan masyarakat tionghoa, uniknya percampuran kebudayaan ini membuat penduduk pribumi turut beralkulturasi bersama dengan warga sekitar. akibatnya bisa ditebak, anda akan emnjumpai muka-muka penduduk keturunan dan pribumi disini, baik yang berprofesi sebagai pedagang, pelayan, pengemis, pengamen, penyemir, hingga pembeli atau bahkan orang yang lewat begitu saja.

Apa yang unik di lorong sempit ini?well,yang jelas karena berada di wilayah kota maka daerah ini pun memiliki kekhasan yang dimiliki kota tua pada umumnya. arsitektur khas China berpadu dengan Belanda dan Betawi memenuhi daerah ini. Terlebih ketika jalur pedestrian dibersihkan dari pedagang kaki lima yang mangkal di sekitar tempat itu, jalur ini dapat terlihat dengan jelas dimana di mulut gang terdapat penjual aksesori khas oriental seperti lampion dan di sebelahnya terdapat penjual nasi campur dan bakmi.

Mau makan apa disini?yang jelas hampir semuanya berkisar chinese food, mulai dari bakmi, nasi hainam dan nasi campur, siomay asli, pioh, sekbak, pangsit, kwetiaw, lochupan, nasi tim, swikee, hingga bakso, gorengan dan aneka jus buah dan es campur. Seru yah ngebayanginnya? Namun, seperti khas daerah pusat jajanan di Indonesia dan Jakarta pada khususnya, anda tidak mungkin mengharapkan suasana yang cozy dan digunakan untuk berlama-lama disini. Disinilah letak keunikan dan keautentikan tempat ini. Lorong ini tak ubahnya pasar dengan orang-orang menikmati hidangan di kanan dan kiri jalan, ramai para pedagang menyerukan menawarkan produk mereka.

Anda harus sedikit rela menyisihkan sedikit recehan atau uang kecil di tempat ini karena sekalinya anda msuk ke dalam lorong ini, sambil makan anda akan berjumpa dengan berbagai rupa manusia mulai dari pengamen, pengemis, tukang semir bahkan kalau anda beruntung, waria dan orang gila. Ini justru seninya.

Keunikan tempat ini bukan dari makanan ataupun tempatnya. Ini adalah salah satu dari sekian lorong panjang dimana kendaraan bermotor tidak dapat melintas kecuali motor nekat. Keunikan lokasi ini terletak pada ambience dan atmosfir hiruk pikuk China town yang akan anda rasakan ketika anda berkunjung kesini. Masuk dalam kategori harus kunjung dengan poin 9.78. Kalau anda orang Jakarta asli, namun belum pernah merasakan lorong ini, well you’re not real to me. hehe…

PS: siomay ikan dan piohnya patut dicoba!

Oct
13
Filed Under (Jakarta) by lomardasika on 13-10-2007

Wah, senangnya seperti anak kecil! Hari minggu tanggal 17 Juni 2007 gue gak bias tidur lantaran mau pergi kemuseum pagi ini. Udah serasa seperti mau berdarmawisata saja! Yap, Komunitas Jelajah Budaya (KJB) mengadakan Jelajah Kota Tua (JKT) yakni tur Oud Batavia (Jakarta Kota Tua) pada hari ini dengan tujuan 5 museum yang tersebar di penjuru Kelurahan Pinangsia (seputaran Stasiun Kota). Dengan biaya 50.000 rupiah per orang, anda sudah bisa mengikuti penjelajahan yang sangat dan sungguh menarik ini. Sungguh, Mall dan Plaza tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan penjelajahan ini.

Acara ini dimulai pada pukul 07.30 pagi di Museum Bank Mandiri yang terletak di Jalan Lapangan Stasiun No. 1 Jakarta – Kota. Jadi, yang belum kebiasa bangun pagi untuk mengikuti acara sejenis, bersiaplah mempersiapkan diri yah! Seperti acara pada umumnya, tampaknya Acara ini mampu menyedot khalayak ramai. Terbukti dengan sudah banyaknya pengunjung yang memadati museum ini untuk melakukan registrasi ulang. Sudah tentu, acara ini mendapatkan dukungan oleh banyak sekali sponsor yakni Lion dan Bank Mandiri. Oleh karena itu, peserta akan mendapatkan banyak sekali manfaat seperti baju sponsor, topi, snack pagi (roti buaya!) dan minuman pagi (kopi atau teh, kremer sepuasnya!), Lavenda untuk menahan gigitan nyamuk, name tag, informasi perjalanan dan seluruh tiket masuk museum yang ditanggung oleh panitia.

Sayangnya, seperti umumnya juga acara yang berjalan di Indonesia, acara ini melorot sampai pukul 08.30 karena banyaknya peserta yang baru saja datang untuk melakukan registrasi. Namun, untung saja Museum Bank Mandiri sendiri adalah lokasi yang sungguh menarik untuk dijelajahi tanpa bantuan tour guide sekalipun. Sehingga, waktu penantian yang cukup panjang dimanfaatkan oleh banyak peserta untuk menjelajahi sendiri museum tersebut, berkenalan, dan ngupi hingga ngeteh sambil makan ruti buaye.

Arah tujuan perjalanan itu sendiri ada 5 yakni diawali di Museum Bank Mandiri, berjalan kaki menuju Museum Sejarah Jakarta (Fatahillah)-melewati Stasiun Kota dan Wisma BNI 46-, Museum Seni Rupa dan Keramik, Museum Wayang, Museum Bank Indonesia dan kembali lagi ke Museum Bank Mandiri. Acara ini berpusat di wilayah kota sehingga bisa dijelajahi dengan menggunakan kaki saja. Bagi yang tidak biasa berjalan kaki atau bersusah payah dengan kecapekan dan manja, sebaiknya urungkan niat untuk mengikuti acara ini. Ini bukan untuk fainted heart! Acara sendiri memakan waktu hingga pukul 2 siang. Kegiatan yang dilakukan seputar mendengarkan informasi yang diberikan oleh para tour leader, menonton film jadoel, berfoto bersama, menonton pertunjukkan lainnya. Untungnya, cuaca cerah namun tidak terlalu terik membantu mensukseskan acara ini. Acara berjalan dari awal hingga akhir tanpa adanya hambatan dan gangguan.

Yang menarik, Jalan Pintu Besar yang dahulu dapat dilintasi oleh kendaraan, sekarang telah ditutup dan digantikan dengan trotoar yang besar sekali. Sungguh menyenangkan berjalan di atas trotoar nan lebar tersebut sambil mengamati bangunan bangunan tua dan menarik di sepanjang kanan dan kiri jalan. Pertunjukkan pun tidak semata-mata pada pertunjukkan museum saja, namun juga digelarlah barongsai, marching band Bank Mandiri, kuis dan door prize dari sponsor. Acara hari ini ditutup dengan tur keliling Bank Mandiri menuju puncak menara guna melihat Oud Batavia secara keseluruhan.

Secara umum, acara ini benar-benar mengasyikkan. Namun, sayangnya, kondisi museum yang kurang terawat dan kurang atraktif menjadikan nilai minus untuk perjalanan ini. Sedih rasanya melihat museum yang sepi apabila kegiatan ini tidak dilangsungkan. Walaupun demikian acara yang konon melebihi target peserta sebanyak 100 orang ini (total 180 orang) dinyatakan sukses berat. Peserta pun rata-rata puas dengan kemampuan tour guide memandu acara ini. Bintang tamu dari Amsterdam pun tidak luput didatangkan dari negeri asalnya guna menyemarakkan acara, Nico Van Horn. Beberapa elemen pendukung seperti sepeda onthel dan tentara khas inlander bertaburan mengiringi dan mengamankan acara ini sepanjang waktu.

Tertarik dengan kegiatan serupa? Komunitas Jelajah Budaya kembali menghadirkan acara sejenis namun dengan kemasan yang berbeda. KJB akan mengadakan Ride The Oud Batavia Onthel pada tanggal 1 July 2007 dengan tujuan Museum Bank Mandiri, Escompto Bank, Sungai Besar, Jembatan Kota Intan, Museum Bahari, Menara Syahbandar, Pelabuhan Sunda Kelapa, Taman Fatahillah. Acara ini tampaknya akan lebih menarik mengingat peserta akan dibonceng oleh sepeda Onthel guna menyusuri daerah-daerah tersebut. Informasi, hubungi 08179940173 atau ikutan milisnya di jelajahbudaya@yahoogroups.com.

Oct
13
Filed Under (Jakarta) by lomardasika on 13-10-2007

Selepas Museum Wayang, kami menyusuri trotoar (dahulu jalan Pintu Besar) menuju Museum Bank Indonesia. Ternyata, selepas menjadi trotoar, banyak sekali bangunan menarik yang dapat dinikmati di sepanjang Jalan Pintu Besar antara lain PT. Kerta Niaga, Balai Konservasi Dinas Kebudayaan dan Permuseuman, dan lambang-lambang kota jajahan Belanda pada waktu itu seperti Lambang Amsterdam (Tanda silang berturutan), VOC (lambang singa perkasa) , Jakarta (Pedang dan lingkaran Halo), Semarang (dewi keadilan memegang pedang dan kendi) dan Surabaya (dilambangkan dengan buaya dan ikan hiu).

Selepas trotoar Pintu Besar menyebrang Jalan Bank, anda akan berjumpa dengan bangunan yang menjadi tujuan wisata berikutnya. Museum Bank Indonesia yang berdiri megah tepat di sebelah museum Bank Mandiri menjadi tujuan perhentian keempat untuk hari ini. Museum Bank Indonesia ini adalah bangunan yang paling baru dibandingkan dengan bangunan – bangunan lainnya. Dahulu, bangunan ini bernama Javasche Bank dan didirikan pada tahun 1909. Museum Bank Indonesia ini adalah bangunan yang paling baru dibandingkan dengan bangunan – bangunan lainnya. Dahulu, bangunan ini bernama Javasche Bank dan didirikan pada tahun 1909. Perluasan bangunan dilakukan hingga 1937. apabila anda melihat situasi dan interior dalam bangunan maka anda akan mengerti mengapa Museum ini adalah museum yang paling baru dibandingkan dengan gedung-gedung lainnya yang berumur beratur-ratus tahun.

Museum ini memang tidak menawarkan banyak benda koleksi, namun keindahan arsitekturnya dapat dijadikan target perhatian. Diliputi dengan air conditioner, bekunjung di museum ini memang paling nyaman dibandingkan dengan museum lainnya. Benda – benda koleksi yang ada dalam bangunan ini kebanyakan seputar urusan ekonomi mulai dari uang, proses dan fakta – fakta yang menyertainya. Pada sisi utara, terdapatlah ruang pamer utama yang berisi sejarah panjang perkembangan uang, perekonomian dan Bank Indonesia di Indonesia ini. Yang unik dari ruang pajang ini adalah desain dan benda-benda yang dipamerkannya. Desain minimalis modern mewarnai ruangan Bank Indonesia ini, sangat berbeda dengan museum-museum lainnya yang sudah kita kunjungi sebelumnya. Pengelolaannya pun terlihat lebih profesional dan rapi dibanding dengan museum sebelumnya yang tampak kurang terawat. Disana sini terdapat petugas maupun staff yang akan senang hati melayani maupun memandu jalannya wisatawan. Beberapa benda panjangan yang unik adalah adanya diorama kasir Bank pada jaman dahulu, kotak-kotak fakta tentang uang dan bisa dibuka (berisikan fakta lucu dan unik mengenai uang), ruang pajang tentang perpindahan manusia pada jaman kolonialisme dahulu (bahkan ada berkarung-karung biji kopi disini!). sejarah panjang Bank Indonesia pun dapat dibaca pada dinding yang meliputi seluruh area pamer ini.

Atraksi lainnya terletak di sebelah selatan museum ini. Area yang dikenal dengan nama Numismatic alias pameran uang dari segala jaman. Dalam ruangan yang sedikit temaram ini, anda dapat menyaksikan banyak sekali informasi mengenai urang dari jaman ke jaman terutama di Indonesia. Berbagai pecahan terbatas yang diedarkan bank Indonesia, mulai dari koin hingga uang kertas pun dapat disaksikan disini. Uang Indonesia mulai dari jaman penjajahan Belanda, jepang, hingga masa sesudah kemerdekaan hingga sekarang dapat ditemui pula disini, tak lupa saalah satu masa paling menarik dalam sejarah uang kita yakni tahun 1960-an yaitu peiode Gunting Syariffudin dimana uang yang beredar pada masa itu dipotong 2 guna menyelamtkan negara dari inflasi yang sangat tinggi, yakni 650%! Potongan tersebut dijadikan sebagai alat pembayaran dan potongan lainnya dijadikan obligasi. Penurunan pecahan 1000 menjadi 1 rupiah pun terjadi pada masa ini. Belajar sejarah tentang perekonomian menjadi lebih menarik dengan hal ini. Desain ruangan Numismatik ini pun dibuat semenarik mungkin. Selain ruangan temaram, pintu masuk menuju ruang pamer ini dibuat seperti pintu brankas besar (kalau pernah melihat gudang uang paman Gober, mungkin anda akan membayangkan itu disini)

Sesudah melihat koleksi numismatik, kami keluar menuju toko souvenir, disini ada berbagai pajangan berupa loket kasir jaman dahulu, benda-benda khas BI dan sebagainya. Tak lupa adalah pintu putar jaman dahulu yang berat. Hati-hati, jangan sampai terjepit disini. Kunjungan ke Museum Bank Indonesia tidak akan lengkap sebelum menyaksikan atraksinya yang sangat unik ini dan belum tentu ada di tempat lain. Ruang utara sebelum menuju teater merupakan ruangan dengan sensor cahaya. Dalam ruangan ini, anda akan melihat koin-koin besar berjatuhan dari langit dalam bentuk 3D. Yang anda patut lakukan adalah mengurung uang-uang itu dalam bayangan anda. Misalnya anda membuat perangkap dengan mempertemukan tanagn kiri dan kanan anda di atas kepala anda, dengan uang yang sudah anda perangkap dalam lingkaran bayangan tersebut. Setelah sekian detik, uang tersebut akan berhenti dan memunculkan informasi tentang tahun penerbitannya, bahan dan nilai nominalnya. Jadi, ruangan ini dikhususkan untuk mengetahui informasi lebih detail mengenai uang-uang logam Indoensia yang pernah beredar(namun tidak semua uang ditampilkan disini). Bingung? Kalau bingung, jangan khawatir, ada petugas yang akan menjelaskan cara menggunakan atraksi ini.

Selepas bermain-main dengan uang 3D, selanjutnya kami menuju teater Bank Indonesia. Disini, kita akan belajar mengenai hal-hal bidang perekonomian dengan gaya jenaka dan anak-anak sehingga diharapkan anak-anak sekalipun memahami tentang perekonomian. Ceritanya adalah si Edu, sebuah Apel yang berteman dengan Abi. Mereka berpetualang demi menghindari si ulat jahat perusak apel. Dalam petualangan, mereka akan terlibat dalam beberapa kegiatan yang membutuhkan uang, seperti saat Abi ingin membeli es kelapa. Beberapa hal lain yang mudah untuk dijelaskan dan tidak sukar dicerna adalah mengenai inflasi (sayang, tidak ada penjelasan mengenai deflasi!), kliring, kegiatan Bank umum, simpan dan pinjam, kegiatan Bank Indonesia, percetakan uang dan siklus uang.

Terus terang, dibandingkan museum lain memang museum Bank Indonesia ini yang paling sedikit memiliki koleksi. Namun, keunikan dan kenyamanan museum ini justru mendapatkan porsi tertentu dari masyarakat. Kegiatan berwisata yang nyaman seperti ininmungkin dibutuhkan oleh masyarakat banyak yang berstereotipe bahwa museum adalah gedung dengan kumpulan benda kotor dan berdebu.

Oct
13
Filed Under (Jakarta) by lomardasika on 13-10-2007

Melintasi Jalan Pos Kota, masuk ke depan lapangan Stadhuis, melewati Kantor Pos Indonesia dan Café Batavia (Konon merupakan gedung tertua setelah Gedung Stadhuis) menuju Jalan Pintu Besar, anda akan menjumpai satu buah museum lagi dengan jalanan di depannya sudah berubah menjadi sebuah trotoar. Dahulu, jalan Pintu Besar masih dapat dilalui oleh kendaraan yang akan menuju Kali Besar Timur 3. Seiring dengan usaha Pemda DKI Jakarta untuk merevitalisasi Oud Batavia, maka Jalan Pintu Besar ditutup guna dijadikan Trotoar. Kini, kendaraan yang melintas menuju Kali Besar 3 harus melewati Jalan Bank masuk ke Kali Besar Timur dan keluar dari Kali Besar Timur 3.

Saat kami mengunjungi museum ini, tampak persiapan tenda untuk suatu acara sedang dibangun di depan Museum ini. Museum Wayang, berbeda dengan gedung-gedung lainnya yang merupakan penopang pemerintahan jaman Hindia Belanda dahulu, adalah sebuah gereja (De Oude Hollandsche Kerk). Gereja tua tersebut didirikan pada tahun 1640. namun gedung yang dijadikan Musuem Wayang tersebut baru dibangun pada awal abad ke 20.

Sesuai dengan namanya, Museum ini menyimpan koleksi wayang, tak hanya dari penjuru nusantara namun juga hingga mancanegara. Beberapa koleksi yang dapat dinikmati disini adalah koleksi wayang-wayang kulit, wayang golek hingga wayang dari China, Boneka Rusia, Marionette, Guignol (Puppet Show dengan gerakan tangan), Topeng-topeng tokoh pewayangan, Wayang Intan (Wayang dengan hiasan Batu Intan asli), Unyil dan kawan-kawan, Boneka India, dan Boneka dari Eropa lainnya. Sekilas, memang beberapa boneka tersebut terlihat menyeramkan, terlebih ada beberapa boneka yang mewakili karakter antagonis seperti kerangka dan sakratul maut. Boneka dan wayang bermuka datar dan besar juga memicu perasaan ini. Terlebih suasana (lagi-lagi) suram yang ditimbulkan akibat pencahayaan yang kurang baik menjadikan atmosfer yang dihasilkan tidak begitu menarik minat orang untuk datang kembali sendiri atau berdua saja.

Pertunjukkan besar yang diadakan sewaktu kami berada disini adalah pertunjukkan wayang kulit khas Betawi (walaupun gambang dan gamelan yang digunakan serta pakaian adat orang-orangnya melukiskan bahwa mereka dari suatu sdaerah di jawa tengah). Bunyi gamelan yang bertalu-talu membawa kami semua pada ruangan di lantai atas. Bunyi gamelan yang indah memang sungguh menraik minat kami. Sayangnya, pertunjukkan wayang tersebut tidak dapat kami saksikan berhubung kami masih harus mengejar situs lainnya.

Yang menarik, selain koleksi wayang di museum ini, pengunjung dapat melihat prasasti nisan – nisan yang diperuntukkan bagi para pejabat VOC yang disemayamkan disini. Salah satunya yang paling terkenal tentu saja siapa lagi kalau bukan Jan Pieterszoon Coen alias J.P. Coen yang sangat tersohor dan terkenal itu. Prasasti-prasasti tersebut terletak di halaman belakang dengan taman yang sangat indah. Di sebelah kiri maupun kanan anda akan melihat sejumlah prasasti nisan pejabat VOC baik yang terkenal maupun tidak.

Oct
13
Filed Under (Jakarta) by lomardasika on 13-10-2007

Apabil anda memutar dari arah Glodok menuju Mangga Dua melalui Jalan Lapangan Stasiun masuk ke Kali Besar 3 dan masuk jalan Pos Kota, anda akan menjumpai satu bangunan besar dan bagus di sebelah kiri anda. Gedung yang dipisahkan Jalan Ketumbar dengan gedung BNI 46 adalah salah satu museum yang dikunjungi pada saat Jelajah Kota Tua ini.

Museum yang diresmikan pada 1976 sebagai Balai Seni Rupa dan 1977 sebagai Museum Seni Rupa dan Keramik dahulu digunakan sebagai pusat peradilan (Raad Van Justitie-1870). Hal ini tampak terlihat jelas dengan adanya sejumlah pilar besar yang menopang bangunan ini sebagai ciri khas mahkamah konstitusi. Dahulu, kantor wali kota jakarta Barat pernah ditempatkan di gedung ini sebelum dialihkan menjadi kantor dinas museum dan sejarah DKI dan menjadi museum menjelang akhir 1970-an.

Bangunan luas dan taman besar di depannya membuat suasana menyenangkan untuk dinikmati, terlebih adanya pohon – pohon besar yang tumbuh di taman depan Gedung ini. Beberapa koleksi yang dimasukkan dalam museum ini adalah lukisan-lukisan (kebanyakan dari Raden Saleh) dan koleksi gerabah, keramik, kendi, guci dan benda sejenis. Beberapa koleksi gerabah tersebut dipisahkan menurut daerah asalnya seperti Kasongan, Probolinggo dan lainnya. Beberapa benda pajangan seperti keramik China asal dinasti yang lalu pun turut mewarnai koleksi museum ini. Sayangnya, sehubungan dengan alasan keamanan, maka benda-benda yang dipajang disini hampir rata-rata merupakan benda replika, misalnya made in Bandung. Beberapa koleksi keramik lainnya tampak tidak utuh seperti yang anda dapat temukan di sebelah utara museum. Koleksi keramik dan porselen peralatan makan dari China ini ditemukan di sekitar Kali dan Laut dengan kondisi tidak utuh sehingga terpecah belah.

Suasana suram pun turut menyelimuti museum yang tampaknya lebih tepat dikatakan galeri ini. Sudut sebelah timur lebih difokuskan untuk lukisan saja sehingga anda yang kurang menggemari lukisan pastilah akan merasa lekas bosan karena sisi timur museum ini kebanyakan hanya memajang koleksi lukisannya saja. Beberapa benda pendukung seperti gerinda pembuat keramik, meja putar dan batu tendangan dapat disaksikan disini. Sayangnya, tidak ada workshop pembuatan keramik saat kami berkunjung kesini. Selain perlaatan pendukung, koleksi patung ukiran seperti totem atau arca Bali mewarnai sudut museum ini mulai dari yang berukuran pajangan meja hingga yang lebih tepat diletakkan di sudut ruangan saking besarnya. Seperti umumnya museum lainnya di Jakarta, museum ini tampak tidak terawat. Suasana sedih dan sepi menyelimuti bagian dalam museum. Hanya bagian depan museum yang tampaknya terawat dengan baik. Sisi dalam maupun ruang pamerannya tampak jarang tersentuh. Suasana dan pencahayaan yang kurang baik semakin menambah sedih suasana suram ini.

Oct
13
Filed Under (Jakarta) by lomardasika on 13-10-2007

Museum ini lebih dikenal dengan nama Museum Fatahillah karena apabila anda menyebut museum Sejarah Jakarta, maka tidak banyak orang yang mengetahui lokasinya. Museum ini terletak tepat di seberang Stasiun Jakarta Kota dan memiliki lapangan besar di depannya yang dikenal dengan sebutan Taman Fatahillah.

Pada jaman pendudukan Belanda dahulu, gedung ini dikenal dengan nama Stadhuis atau diIndoensiakan sebagai Kantor Balai Kota. Lapangan di depannya pun bernama Lapangan Stadhuis. Konon, bangunan ini adalah bangunan tertua di daerah ini karena diresmikan pada tanggal 1707, dimana bangunan lainnya baru diresmikan setelahnya.

Berfungsi sebagai Kantor Balai Kota, gedung ini mempunyai sejarah yang teramat panjang dan begitu kelam. Selain sebagai pusat pemerintahan Oud Batavia waktu itu, di depan lapangan ini sering terjadi pengalgojoan tawanan yang umumnya berupa budak-budak majikan Belanda. Yang paling umum terjadi adalah peristiwa pemenggalan kepala budak oleh algojo pada waktu itu. Pedang pengalgojoan tersebut masih tersimpan rapi dalam salah satu ruangan di dalam Museum ini. Pada jaman pendudukan belanda dahulu pula, museum ini memiliki lonceng besar di puncaknya. Lonceng ini sering dibunyikan dengan dentang sebanyak satu kali yang berarti akan diadakan pengalgojoan.

Memasuki ruangan museum, kita langsung akan merasakan atmosfer yang berbeda. Selain terasa disedot ke masa lampau, suram dan kurang terawatnya koleksi menjadikan suasana kurang begitu menyenangkan. Koleksi-koleksi dalam museum ini tersebar dalam beberapa lantai. Koleksi yang paling umum ditemukan adalah prasasti-prasasti yang umumnya dihasilkan oleh kerajaan Taruma Negara, tembikar asia maupun mancanegara, barang-barang peninggalan Stadhuis jaman dahulu seperti meja, lemari besar, brankas, cermin, backgammon, buaian bayi dan ranjang, perhiasan kristal, tabung dan labu erlenmeyer, dan lukisan potret diri pejabat berkuasa waktu itu. Beberapa benda tersebut hadir dengan arsitektur jaman itu yang sangat antik dan rumit. Menimbulkan sensasi mengerikan apabila melihat benda-benda tersebut dan membayangkan suasana yang terjadi pada jaman itu. Pedang pengalgojoan yang memakan banyak korban itu pun masih tersimpan rapi di salah satu ruang dengan pigura kayu jati dan dilapis kaca.

Koleksi lain yang dimiliki oleh Museum Fatahillah ini adalah adanya penjara bawah tanah lokasi penyekapan tawanan dan budak. Dalam ruangan yang sangat sempit tersebut konon pernah digunakan untuk menyimpan budak hingga 70 orang banyaknya. Sangat tidak terbayangkan bahwa kami yang berjumlah sekitar 10 orang saja sudah merasa sesak di dalam penjara tersebut, dan penjara tersebut digunakan untuk menyekap 70 orang tawanan dan budak. Sungguh mengerikan. Di dalam penjara terdapat beberapa ornamen khas seperti bola bola besi baik yang kecil maupun besar. Ruangan penjara sendiri sangat tebal dan dijeruji hingga dua lapis. Suasana suram dan menakutkan mewarnai kunjungan kami ke penjara tersebut. Kami segera berlalu menuju site berikutnya.

Di seputar taman yang terletak di dalam museum tersebut juga terdapat benda-benda pameran seperti Patung hermes atau dewa perdagangan yang konon dahulu terdapat di sekitar Lindeteves. Namun, kunjungan anda ke museum Fatahillah tidak boleh dilewatkan tanpa mendengerakan cerita dan menyaksikan Meriam Si Jagur, icon Museum Fatahillah.

Meriam Si Jagur ini memang fenomenal. Meriam ini terbuat dari sejumlah meriam kecil yang dilebur guna menjadi Si Jagur ini. Panjangnya sekitar 3,81 m dan di pangkalnya terdapat rupa tangan dengan jempol terjepit di antara telunjuk dan jari tengah. Bentuk yang demikian membuat kami bertanya-tanya dan menginterpretasikan maksud dari simbol tersebut. Ada yang bilang itu adalah simbol kejantanan laki-laki. Namun, pada pangkal telapak genggaman tangan tersebut gelang yang dapat dilogikan bahwa sang pemilik adalah perempuan, sehingga dicap sebagai lambang kesuburan. Pada jaman dahulu, banyak orang percaya bahwa meriam ini adalah sesuatu yang membawa berkah sehingga banyak orang datang membawa sesajen untuk diletakkan di meriam ini. Selain lambang kesuburan/kejantanan, meriam ini pun disangka sebagai lambang keberhasilan bisnis, kelanggengan jodoh dan garis keturunan. Oleh karena itu, banyak orang-orang yang ingin agar bisnisnya berhasil, ingin mendapat jodoh maupun ingin mendapat keturunan datang dan mengunjungi meriam ini. Untuk orang yang belum mendapatkan keturunan, bahkan ada cerita yang beredar bahwa keturunan akan didapatkan begitu kita menduduki lambang tangan terkepal di meriam tersebut. Sayangnya, informasi ini tidak lengkap sehingga tidak diketahui siapakah yang harus duduk di kepalan tangan tersebut, apakah sang suami/istri dan arah duduknya yang tidak disebutkan apakah ke arah depan searah dengan meriam atau kebalikan. cerita lain seputar meriam ini adalah meriam Si Jagur ini mempunyai kembaran dengan bentuk yang sedikit berbeda terutama di bagain fenomenalnya tersebut. Meriam satu lagi diperkirakan berada di Banten. Konon, apabila kedua meriam ini dipertemukan, dunia akan kiamat ceritanya. Seru yah?

Sayangnya, meriam ini baru-baru saja dimasukkan ke dalam lingkungan museum. Dahulu, meriam ini diletakkan di Lapangan Stadhuis sehingga banyak orang yang bermain-main dengan meriam ini dan duduk di atasnya sehingga kondisinya terlihat terbengkalai. Oleh atas permintaan masyarakat sekitar, meriam ini diangkut ke dalam museum dengan menggunakan forklift. Sayangnya pula, proses pemindahannya sendiri tidaklah dapat dikatakan gampang. Forklift tersebut terangkat ketika hendak memindahkan meriam ini saking beratnya. Untuk menyeimbangkannya, forklift tersebut diisi oleh 30 orang, barulah meriam tersebut bisa dipindahkan.

Beberapa benda yang terlihat biasa pun dapat ditemukan dalam lingkungan museum yakni warung biru yang sering kita lihat mewarnai sudut jalan di ibukota ini dan gerobak abang tukang bakso. Kenapa barang sebiasa itu ada di dalam museum? Jawabannya adalah benda-benda tersebut autentik milik Indoensia only dan tidak ada di tempat lain di dunia. Aneh dan bangga juga memiliki sesuatu yang unik dan autentik hanya ada di Indonesia.

Kini, museum yang diresmikan pada tahun 1974 ini semakin digemari terutama oleh kelompok pencinta budaya dan para fotografer. Mereka mencari bangunan tua yang arsitekturnya unik dan khas. Hal ini yang akan ditemukan pada museum Fatahillah ini. Tidak lupa, cerita menyeramkan seputar museum Fatahillah ini terutama pada saat malam hari juga mewarnai kunjungan ini. Tidak heran, atmosfer dan benda-benda peninggalan seakan memaksa kami semua berpikiran dan berparadigma demikian

Oct
13
Filed Under (Jakarta) by lomardasika on 13-10-2007

Inilah starting point sekaligus ending point kita. Seusai Bank Indonesia, kami kembali ke Museum Bank Mandiri. Museum Bank Mandiri dahulu bernama Nederlandsche Handel Matshappij mulai dibangun pada tahun 1929. semenjak jaman lampau, gedung ini memang sudah dipergunakan sebagai Bank. Anda dapat melihat suasana dalam Bank tersebut dan mengesankan kuat bahwa kegiatan perbankan sudah mendarah daging dalam gedung ini. Beberapa papan petunjuk seperti Verdieping, Suiker Bergcultuur Inspecteurs, dan Kas Afdeeling Bank Zaken Reiscredieten mengisyaratkan bahwa kegiatan perbankan sudah berlangsung lama disini.

Beberapa benda pajang yang menarik tersebar di aula utama gedung ini. Beberapa benda pajangan yang dapat disaksikan antara lain mesin tik tua, mesin atm tua, mesin cetak kartu, mesin kas, buku besar (Groot Boek), dan aneka brosur maupun peralatan perbankan lainnya sampai kipas angin antik. Salah satu ciri khas dari gedung ini adalah Ornamen Kaca Patri yang dal=pat anda jumpai sebelum anda naik ke lantai atas. Ornamen tersebut berceita tentang Cornelis de Houtman dalam perjalanan empat musim. Ornamen kaca patri tersebut sungguh indah walaupun keindahannya kurang dapat dinikmati dari jalanan depan sehubungan dengan perbaikan jalan di depan museum ini. Sehubungan dengan gedung yang dahulu digunakan oleh Bank Bumi Daya, Bank Exim, Bapindo dan Bank Dagang Negara sebelum dimerger menjadi Bank mandiri, maka anda akan menemukan banyak sekali brosur yang berkaitan dengan keempat bank tersebut disini dan dijadikan sebagai benda pajangan.

Arsitektur gedung ini bergaya art deco. Susunan ruangannya sedikit rumit, terutama dengan banyaknya lorong lorong yang tampaknya dapat menyesatkan. Ruang bagian atas digunakan untuk keperluan direksi. Terlihat disini beberapa ruangan seperti ruang tunggu, ruang temu direksi, ruang pajang uang, ruang merchandise Bank Mandiri, Toilet, bahkan ruang makan plus koleksi keramik porselennya. Ada pula salah satu ruang yang berisikan foto-foto seluruh direksi yang pernah menjabat di Gedung ini.

Lantai atas lagi berisikan perpustakaan. Berbeda dengan lantai di bawahnya, lantai ini tampak kurang terjamah. Yang sedikit menimbulkan sensasi tidak enak adalah adanya lubang-lubang ventilasi yang cukup besar dan bersambungan di seluruh penjuru gedung. Lubang-lubang ventilasi tersebut digunakan sebagai pencegah kelembaban udara. Sayangnya, lubang tersebut gelap dan tidak terlihat apa-apa. Kesannya menakutkan dibanding fungsional. Kata Pak Kartum, ada ruangan di dalam ventilasi tersebut yang cukup untuk digunakan berlari-larian. Beberapa benda pengiring seperti kerekan mewarnai ruangan-ruangan di lantai 3 ini. Beberapa kali terjadi pula pameran lukisan dan foto yang mengambil tempat di aula lantai 3 gedung ini. Jujur, kalau sendirian, saya sungguh tidak berminat mengunjungi gedung ini. Arsitektur dan susunan bangunan yang rumit sudah membuat jiper dengkul saya.

Dimanakah tangga lantai 4 berada? Ternyata terletak di ujung ruang pameran dan aula. Susunana tangga yang tidak simetris antara satu lantai dengan lantai lainnya juga menjadi ciri gedung ini. Lantai tertinggi ini memang sebenarnya diperuntukkan bukan untuk ditinggali namun sebagai lokasi kipas angin besar dan pelataran atap. Dari sini, anda dapat melihat Jakarta Kota dari ketinggian. Sungguh mengagumkan! Ada lagi satu bauh menara di atas pelataran ini yang dijadikan icon Museum Bank Mandiri. Namun sayang, tangga menuju menara tersebut sangat terjal dan orang yang naik harus antri bergantian dengan yang turun, saya memilih tidak ikut naik daripada terjebak mengantri menaiki menara tersebut.

Satu lantai lagi bukan berada di paling atas, namun berada di paling bawah yakni lantai dasar. Lantai dasar dijadikan tempat penyimpanan uang. Kalau di Museum Bank Indonesia ada pintu brankas tiruan, disini ada pintu brankas asli dengan ketebalan dinding 1 meter(tebal sekali!), anti api dan berat pintu sendiri mencapai 3,5 ton. Pintu brankas sendiri dirancang secara mekanik untuk peduli terhadap perhitungan waktu(terbuka secara otomatis) ataupun nomor sandi yang dapat dipergunakan untuk membuka pintu ini. Sayangnya, ruangan brankas yang besar tersebut sangatlah luas dan lebih berkesan mirip penjara karena banyak terali disanasini. Ada sejumlah pintu ventilasi yang (lagi-lagi) berisi ruangan gelap. Angat tidak nyaman dan pengap berada di ruangan tersebut. Tembusan dari ruang brankas tadi adalah ruang dengan banyak sekali brankas brankas tua yang tebal dan besar. Segala macam koleksi brankas maupun depoist box dapat anda temukan pada lantai dasar Bank ini.

Sama halnya dengan Museum lainnya, debu mewarnai koleksi dalam museum ini. Sayang sekali, peninggalan bersejarah tersebut kurang terawat. Dipadu dengan suram dan buruknya pencahayaan, semakin terpuruklah niat orang ingin berkunjung ke museum ini. Untung saja, Komunitas Jelajah budaya sering mengadakan acara dengan starting point di gedung ini. Setidaknya, ini dapat membantu dalam hal pengembangan museum ini.

Oct
13
Filed Under (Jakarta) by lomardasika on 13-10-2007

Sebenernya ini berjudul dari Mangga Dua ke Mangga Besar. Namun, gara2 judulnya biasa aja, so gue bikin judulnya seatraktif mungkin…udah atraktif kan? =P

Well, hari terakhir gue di vector akan terjadi pada tanggal 7 Juni 2007. esoknya lagi gue sudah pindah ke Mahakam. Dalam rangka itikad baik gue, maka sepulang dari tempat kerja di Mangga Dua, gue menyempatkan diri menuju Mangga Besar dimana terdapat salah satu gerai dunkin donut disini.

Pertanyaan pertama, kenapa gue belinya malam ini? Kenapa gak besok? Pertanyaan bagus! Jawabannya, dengan kartu member eksklusif dunkin, diskon pada hari rabu akan lebih besar disbanding hari lainnya (20% loch…) so…kesempatan ini tidak gue sia siakan donk…belanjalah gue pada hari rabu.

Menjelang hari terakhir di vector, gue juga memutuskan untuk melalui jalan unik yang selama ini gak kepikiran buat dilalui lantaran pengen buru buru pulang dan males berlama lama di jalan raya. Rute gue pada hari rabu, 6 Juni 2007 tergambar pada peta di atas. Pretty muter-muter karena gue juga gak seberapa inget posisi eksak dunkin berada. Jalur gue adalah : Mangga Dua Raya – Jembatan Batu – Pinangsia Timur – Mangga Besar 1 – Labu (Ga bias lurus!) – Mangga Besar 5 – Mangga Besar Raya – (puter balik di muka Gunung Sahari Raya karena selalu kelewatan pada setiap U Turn…!) – Kartini – Mangga Besar Raya (tepat di sebelah rel kereta api).

Note : Jalan Mangga Besar 1 dan Labu merupakan jalan yang rusak parah(parahnya nggak kebayang banged dech…sersa kembali ke Tangkuban Parahu, dimana kawahnya lebar lebar dan naik turun). Kalau punya mobil bagus, jangan pernah mencoba jalan ini deh. Taman Ratu? Wuih, jalanan Taman Ratu akan tampak seperti jalan baru diaspal kalo dibandingkan sama jalan Labu ini…sumpe parah bopeng dan bonyok!

Putaran U di sepanjang jalan Mangga Besar ada banyak namun karena terlewat(seinget gue ada 3 buah) maka gue baru bias muter di muka Gunung Sahari, itupun kena macet mobil mobil yang ngantri disitu! Seperti biasa juga, menjelang malam, wilayah Mangga Besar adalah wilayah yang ‘hidup’! pusat aktifitas pergerakan kehidupan malam begitu membuncah menggeliat di tempat ini. Mau liat segala rupa indah kehidupan mungkin disini tempatnya. Mulai dari lokasari, hotel-hotel yang berjejer hingga rumah sakit Husada. Semuanya ramai dan macet.

Jalan terdekat menuju lokasi sebenernya dapat ditempuh melalui penyusuran jalan samping kereta Api dari jalan raya Mangga Dua menembus Tiangseng – Pecah Kulit masuk ke Tangki. Anda akan keluar tepat di depan Dunkin Donut. Hati-hati, parkirannya bukan parkiran yang terjaga dengan rapi. Kunci kendaraan anda, terutama motor Karena parkirannya berhadapan langsung dengan jalan raya tanpa adanya lampu merah.

Oct
12
Filed Under (Jakarta) by lomardasika on 12-10-2007


Akhirnya, setelah menunggu berminggu minggu untuk berwisata ke Musium Nasional Jakarta (atau lebih dikenal dengan sebutan Musium Gajah) akhirnya gue dapat berkunjung juga ke Musium ini pada tanggal 26 Mei 2007, bersama Ike. Thank Ike buat menemani. Biarpun setiap pagi gue melewati tempat ini, kenyataannya, untuk masuk tuh malesnya minta ampun. Mungkin karena sendirian yach? makanya kayak orang bego kalau masuk sendirian ajah….

Total Biaya : Rp. 1000 (ongkos parkir)

Yap! National Museum of Jakarta memang menawarkan wisata yang berbeda dibanding keseharian tempat wisata yang umum kita kunjungi. Oleh karena gue gak masuk Musiumnya sendiri di Gedung A, maka gue gak bayar biaya karcis masuk sebesar Rp. 750 rupiah (bukan ribu atau puluh ribu loch…..)

sampai di Museum pukul 8.45 dan lingkungan museum seperti biasa sudah dipenuhi oleh kendaraan. Namun pagi itu, hanya satu buah bisa dan satu buah mobil tronton beserta rombongan anak-anak yang berkunjung ke museum tersebut. Jangan heran, ketika masuk memang anda tidak akan berjumpa dengan loket parkir atau apapun yang akan menunjukkan kepada anda dimana lokasi parkiran museum tersebut. Namun, jalanlah lurus dan masuk tramp basement yang kedua (terletak sebelah utara) maka anda akan masuk ek dalam areal parkir Basement. Jangan heran lagi apabila tidak ada petugas sama sekali di basement tersebut. cukup KUNCI motor anda dengan sebaik-baiknya dan berjalanlah keluar tramp. Yap! Anda sampai dan siap mengunjungi Musium Nasional Jakarta.

Secara umum, musium terbagi atas 3 gedung dan 2 buah area. Gedung utama musium yang sebanyak 3 buah (A,B,C) hanya terpakai gedung A nya saja. Hal ini dikarenakan hanya Gedung A yang masih menyimpan benda benda kuno peninggalan sejarah. Geung B dan C sedang masuk tahap renovasi dan pengembangan. 2 Area lain yang dapat dikunjungi ialah area taman depan (lokasi patung gajah dan jangkar besar berada) dan area hall tengah tempat bersantai dan penghubung antara Gedung A dan gedung B.

Sayangnya, keterbatasan waktu membuat kami memilih tidak memasuki Gedung A, tempat benda benda bersejarah tersebut berasal. Kami langsung masuk Colloseum untuk melanjutkan menuju Hall Tengah, tampat kami memulai foto-foto. Jujur harus diakui, Kondisi Hall tengah cukup baik terawat terutama dengan petak petak lahan dan tebaran pohon palem dimana-mana. Namun sayangnya, di ujung hall tengah terdapat air terjun mini yang tidak dioperasikan lagi. Air terjun yang tidak dioperasikan ini membuat kesan Hall tersebut seperti jorok (karena ditumbuhi oleh lumut) dan terbengkalau (bagian ujung ditutup dengan Seng). Akhirnya, kami harus puas berfoto-foto dengan sudut-sudut yang direkayasa agar terlihat bagus.

Lokasi kedua, kami keluar dari Hall tengah dan langsung menuju Taman Depan. Taman depan ini adalah taman yang biasanya anda lihat ketika anda melewati Jalan Medan Merdeka Barat. Disini, terdapat beberapa benda yang diletakkan di taman guna pengunjung dapat menikmati keindahannya dengan lebih jelas seperti Patung Gajah yang menjadi simbol Museum ini, Meriam, Jangkar dan Teater Mini. Tatanan tanaman di taman depan juga menarik sehingga sayang untuk dilewatkan. Beberapa hal yang outstanding dan patut dijadikan pilihan untuk berfoto adalah sudut-sudut museum yang masih terkesan tempoe doeloe. beberapa sudut jendela museum berkesan kuno sekitar jaman kolonial sehingga menarik untuk diabadikan. Gedung C yang memiliki pilar-pilar raksasa bergaya kolonial juga patut untuk tidak anda lewatkan. beberapa larangan seperti “Dilarang Menginjak Rumput” yang tertancap di sini membuat taman - taman tersebut masih asri.

Hal yang membuat kesenangan kami sedikit berkurang adalah kedatangan seorang Bapak penjaga loket yang mengatakan kami belum membayar tiket masuk. Dengan heran aku berkata “Pak, saya nggak masuk museum sama sekali?! Kami cuma berfoto-foto di hall tengah dan taman aja, apa itu dikenai karcis juga?!”. Wuih nada gue udah anek tuh. Si Bapak langsung berbalik badan sambil menggumam gak jelas. Jujur, sempet BT aja. Kelakuan Pak…kalau emang kita harus bayar ya nggak usah sebegiunya donk minta duit! kalau emang butuh duit bilang aja. Bikin rusak pariwisata Lokal aja kalau begitu! Jadi gak simpatik lagi sama museum yang tertarih tatih gara2 kelakuan pekerjanya begitu. Muka gue sempet BT beberapa saat sampe diingetin, masih harus berfoto so, muka gue harus dicerahkan lagi. hahaha….

But, overall. Kalau kapan-kapan anda mengunjungi medan Merdeka Barat, lagi naik busway atau kendaraan apapun, turun deh di Musium Nasional Jakarta tepat di depan halte Monas. Anda akan merasakan perbedaan dengan tempat - tempat wisata umumnya kayak mall yang ada di Jakarta. Berwisata di Museum plus rimbunan taman dan Pohon sungguh menyegarkan dan menyuntikkan semangat baru untuk yang mencari ketidakrutinitasan. Hidup serasa jadi lebih hidup loh. Perlakuan petugas yang rada-rada mah biarin aja. Mungkin juga karena mereka sudah tua, jadi kurang awas menjaga museum, berpikir semua orang yang ada di lingkungan museum pastilah masuk ke dalam Gedung A dan wajib bayar. gue maafin koq. paket wisata bener-bener murah. kita gak bayar biaya apapun kecuali kendaraan yang hanya sebesar Rp. 1.000 (motor). Sungguh menyenangkan ada selingan sebelum bekerja. Fun!

Next Time, ke museum mana lagi yach?

Oct
12
Filed Under (Bali) by lomardasika on 12-10-2007

Melewatkan malam tahun baru di Jakarta? Bosan dengan suasana yang itu itu saja? Ingin mencicipi sesuatu yang lain? Well, kalau jawaban dari pertanyaan tersebut adalah Ya. Silahkan cicipi malam pergantian tahun yang lebih awal dibanding biasanya. Apabila anda mencicipi malam pergantian tahun pada waktu anda yang biasa, kali ini nikmatilah malam pergantian tahun dalam waktu WITA. Lokasi yang dipilih adalah pusat malam pergantian tahun untuk wilayah WITA di Indonesia. Mana lagi kalau bukan di Bali?

Malam pergantian tahun begitu menyeruak setiap sendi kehidupan di malam ini. Pantai Kuta, yang biasanya selepas pukul sebelas malam akan mulai kehilangan hingar bingarnya, kali ini begitu hidup dan meriah hingga menjelang pagi. Wajah – wajah asing dari eropa dan amerika begitu mendominasi tempat ini. Tidak salah bila dikatakan pada malam ini, pengunjung pantai kuta yang berasal dari turis mancanegara membludak berkali lipatnya.

Menikmati pergantian tahun di Bali adalah siuatu fenomena tersendiri. Berpusat di pantai kuta, saya menjadi saksi menikmati malam pergantian tahun 2006 ke 2007. puluhan hotel dan bar yang berjejer di sepanjang pantai menggelar acara terakbarnya malam itu. Nyaris, tak ada ruang celah untuk bergerak bagi anda yang masih berada di jalan raya kuta malam ini. Kuta penuh sesak dengan manusia manusia pencari spirit, gairah kehidupan yang sesungguhnya.

Malam itu saya memilih Hard Rock Hotel sebagai tempat pemberhentian saya menikmati malam pergantian tahun. Di depan hotel tersebut telah terpasang sebuah panggung untuk acara final pergantian tahun. Sambil menunggu, kami berkeliling kuta dengan berjalan kaki. Pantai Kuta yang biasanya hanya memiliki segelintir orang saja yang berjalan-jalan di pantai pada waktu malam hari, sekarang penuh dan ramai. Masing-masing asyik dengan kehidupannya masing-masing. Masing0masing asyik bersenda gurau, meniup terompet, menyalakan mercon, mengenakan topi dan hiasan hiasan penuh kegembiraan lainnya.

Anda cukup memilih salah satu dari sekian banyak pagelaran yang ditampilkan oleh banyak hotel maupun pub di sepanjang jalan raya kuta tersebut. Apabila anda kebetulan tidak berada di Kuta pada malam yang penuh gairah tersebut, anda bisa memilih banyak lokasi lain di Bali yang dijadikan sentra malam pergantian tahun. Namun, sekali lagi, dari Legian hingga Kuta, anda akan benar-benar menyaksikan aroma dan gairah kehidupan masyarakat yang berasal dari banyak penjuru dunia, baik kaya maupun miskin, tua serta muda.

Sirine berbunyi. Musik Bali bergema mengalun dan kemudian penari penari Eksotis Bali langsung berlenggak lenggok di depan panggung tersebut. Teriakan riuh menyerbu udara. Semua begitu antusias menyambut malam pergantian tahun tersebut. Menjelang waktu yang dinantikan, alunan musik berhenti. Tibalah saat yang maha dasyhat dan maha magis tersebut untuk dinantikan. Tanpa aba-aba, semua orang langsung menghitung mundur. Satu..Nol..kembang api pun bermuncratan ke udara, semua orang berebut berlari ke arah pantai guna melihat petasan kembang api tersebut lebih dekat. Kurang lebih sepuluh menit warna warni kembang api tersebut memenuhi angkasa, tak ketinggalan pula media turut mengabadikannya. Selamat Tahun Baru bagi bali dan sekitarnya. Udara pun kembali dipenuhi jeritan riuh kemenangan, kebahagiaan bahwa kita semua telah melewati tahun 2006 dan berganti dengan 2007 demi harapan yang lebih baru dan lebih indah. Semua orang tampak mengucapkan selamat dan masing-masing mengucapkan syukur dengan ekspresinya masing-masing. Ada yang bersalaman, memeluk, saling mengucap kata sayang, bergandengan hingga berciuman.

Detik berikutnya, terjadilah pula ritual tahunan yang menyebabkan Kuta sangat padat merayap. Ribuan manusia tumpah ruah ke badan jalan menjauhi Pantai Kuta karena acara sudah berakhir. Semua kembali ke habitatnya kembali. Ada yang masih ingin bersenang-senang ada pula yang ingin segera beristirahat guna mempersiapkan diri keesokkan harinya. Warga Eropa dan Amerika tampak lebih antusias menyambut semua ini. Beberapa diantara mereka tumpah ruah dan kemudian menyalami banyak warga lain maupun warga lokal, turut bergembira merayakan malam pergantian tahun ini. Kuta Legian macet total dipenuhi oleh manusia, motor dan mobil.

Sayangnya, beberapa hal tampaknya mempengaruhi kemeriahan yang ditimbulkan. Sebagai contoh, masing-masing hotel dan pub memiliki acara unggulannya masing-masing tanpa menghiraukan atau menyinergikan dengan pihak lain di sebelah kanan dan kirinya. Akibatnya, musik hingar bingar seolah oleh tercampur dan membuat bising suasana. Belum lagi adanya perpaduan kesenian yang ditampilkan antara satu tempat dan tempat lain yang tidak senada yang tentunya merusak suasana. Orang-orang yang terlalu larut akan kegembiraan pesta tampak pula membuat suasana sedikit tidak menyenangkan seperti berdansa sambil mabuk di pinggir jalan. Acara puncak yang ditunggu-tunggu pun harusnya dapat lebih terkonsentrasi pada satu perayaan bersama, bukannya justru saling menonjolkan acara pergantian tahun masing-masing. Akibatnya? Kembang api dan hitungan mundur pergantian tahun yang dilakukan tidak sinkron. Jangankan demikian, saat hotel Mercure sudah memasuki tahun 2007, Hotel Hard Rock masih dalam suasana 2006-nya. Bukankah sebaiknya membuat satu kesinergisan agar energi yang dihasilkan malam itu membawa dampak yang lebih positif dan meriah? Aparat keamanan tampaknya sudah berjaga dengan sangat baik malam itu. Arus kendaraan ditutup untuk semua arah dari dan menuju Pantai Kuta. Akibatnya tentu terjadi kemacetan mulai dari legian hingga Kartika Plaza. Namun, alangkah baiknya apabila terdapat semacam metal detector untuk mengantisipasi kemungkinan yang lebih buruk yang mungkin terjadi.

Overall, bertahun baru di alam WITA memang memiliki keunikan tersendiri. Apabila teman-teman di Jakarta masih larut dalam suasana, anda sudah dapat menyatakan tahun baru pada rekan rekan anda.